"Metode Mengaji Masa Kini" — enam kata yang baru saja diusung Tajdied Center sebagai tagline resmi lembaga pendidikan Al-Qur'an di bawah naungan Muhammadiyah ini. Namun, di balik kesederhanaan diksinya, tersimpan pergulatan makna yang jauh lebih dalam: bagaimana menafsirkan ulang tradisi belajar Al-Qur'an agar tetap hidup, relevan, dan membumi di tengah derasnya arus perubahan zaman.
Akar Historis: Dari Al-Jadied ke Tajdied Center
Untuk memahami "masa kini", kita harus menengok sejenak ke masa lalu. Tajdied Center pada 2013 resmi mengubah namanya dari Al-Jadied—sebuah langkah yang bukan sekadar pergantian identitas, melainkan deklarasi orientasi baru. Tajdid sendiri dalam tradisi Muhammadiyah bermakna "pembaruan" atau "memperbaharui"—sebuah gerakan untuk merevitalisasi dan menjaga kesinambungan ajaran agama dalam rangka menjawab tantangan zaman.
Dengan demikian, tagline "Metode Mengaji Masa Kini" bukanlah sekadar slogan pemasaran. Ia adalah kelanjutan logis dari semangat tajdid yang sejak awal menjadi DNA Muhammadiyah: bahwa pembaruan bukanlah pengkhianatan terhadap tradisi, melainkan upaya setia untuk menghidupkannya di setiap generasi.
Menafsir "Masa Kini": Antara Metode dan Mentalitas
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan "masa kini" dalam konteks metode mengaji? Setidaknya ada tiga lapis makna yang dapat dibaca.
Pertama, masa kini sebagai pendekatan pedagogis. Metode Tajdied dirancang dengan menggabungkan pendekatan Struktural Analisis Sintesis (SAS) dan teknik mnemonik, sehingga memudahkan peserta didik mengenali huruf serta mempercepat kemampuan membaca. Metode ini hanya menggunakan satu jilid buku—berbeda dengan metode lain yang biasanya memiliki lebih dari tiga jilid—sehingga anak dapat lebih cepat mencapai kemampuan membaca Al-Qur'an. Di sinilah "masa kini" berarti efisiensi: belajar yang tidak bertele-tele, tepat sasaran, dan menghormati waktu peserta didik.
Kedua, masa kini sebagai filosofi belajar yang menyenangkan. Trainer Pusat Tajdied Center, Lukman Syah, menyebutkan bahwa metode ini memiliki motto: Mencerdaskan, Gembira, Pasti Bisa. Tujuan pertama adalah mencerdaskan, kemudian membuat belajar terasa bukan belajar—melalui nyanyian, tepuk tangan, dan cerita. Metode Tajdied, dengan demikian, "memanusiakan anak, menjadikan segala hal pembelajaran menjadi menyenangkan bukan beban, dan bukan menjadikan anak seperti burung beo".
Ini adalah kritik halus terhadap pendekatan lama yang kerap menjadikan mengaji sebagai kegiatan kaku, membosankan, bahkan menakutkan. "Masa kini" berarti mengakui bahwa anak-anak zaman sekarang tumbuh dalam ekosistem yang berbeda—dan pendekatan belajar harus beradaptasi dengan realitas itu.
Ketiga, masa kini sebagai integrasi teknologi. Inilah lapis makna yang paling kasatmata. Tajdied Center mengembangkan Tajdied Educore, sebuah aplikasi yang merupakan ekosistem digital pembelajaran Al-Qur'an terintegrasi. Aplikasi ini dirancang untuk menjawab tantangan pendidikan Islam masa kini: fragmentasi informasi, minimnya komunikasi antara guru, siswa, dan orang tua, serta tingginya beban administratif bagi tenaga pendidik.
Fitur-fitur yang ditawarkan mencerminkan keseriusan membaca tanda-tanda zaman: pemantauan progres secara real-time, kolaborasi dan diskusi online, dukungan multimedia berupa video dan infografis, hingga kecerdasan buatan (AI) sebagai pemantau cerdas yang memberikan rekomendasi belajar dan deteksi dini area yang perlu ditingkatkan. Bahkan proses ujian seperti ikhtibar, imtihan, dan munaqasyah yang dulu membutuhkan banyak kertas kini dapat dilakukan melalui ponsel.
"Ini bukan hanya aplikasi, tapi gerakan perubahan untuk mencetak generasi Qur'ani dengan pendekatan adaptif dan kolaboratif," tegas Pristiandi Teguh C.
Melampaui Teknologi: Masa Kini sebagai Kesadaran
Namun, jika "masa kini" hanya dimaknai sebagai penggunaan gawai dan aplikasi, maka ia akan kehilangan bobotnya. "Metode Mengaji Masa Kini" sesungguhnya menunjuk pada sesuatu yang lebih fundamental: sebuah kesadaran bahwa mengaji bukanlah kegiatan yang terisolasi dari realitas sosial, melainkan praktik yang harus bergumul dengan dinamika zamannya.
Di sinilah letak kontribusi terbesar tagline ini. Ia mengingatkan bahwa pendidikan Al-Qur'an tidak boleh menjadi monumen masa lalu yang hanya dikunjungi sesekali untuk sekadar bernostalgia. Ia harus menjadi sungai yang terus mengalir—tetap sama airnya, namun selalu baru jalurnya, selalu menyesuaikan dengan medan yang dilalui.
Penutup: Jembatan, Bukan Tembok
"Kami berharap transformasi ini menjadi jembatan bagi lebih banyak orang untuk belajar Al-Qur'an. Belajar dengan cara yang mudah, menarik, dan sesuai perkembangan zaman," ungkap Muhammad Taufiqur Rosyid, CTO Tajdied Center.
Tagline "Metode Mengaji Masa Kini" adalah undangan untuk melihat bahwa tradisi dan modernitas bukanlah dua kubu yang bertentangan. Ia adalah jembatan—menghubungkan generasi yang merindukan kemurnian ajaran dengan generasi yang tumbuh dalam genggaman teknologi. Bahwa mengaji di masa kini bukanlah tentang memilih antara kitab kuning atau layar biru, antara hafalan atau aplikasi. Melainkan tentang bagaimana keduanya dapat berjumpa, berdialog, dan saling memperkaya.
Di sanalah letak makna sesungguhnya dari "masa kini": bukan sekadar waktu, melainkan sikap—keberanian untuk tetap setia pada esensi, sambil terus bergerak bersama arus zaman. (*)
📰 Sumber Referensi Artikel
1. Tentang Pembaruan Situs dan Tagline "Metode Mengaji Masa Kini"
-
TAGAR.CO - "Website Tajdied Center Ganti Wajah, Navigasi Lebih Mudah": Artikel ini menjadi sumber utama yang membahas peluncuran situs baru
tajdiedcenter.compada 13 Agustus 2025 serta pengusungan tagline "Metode Mengaji Masa Kini". Sumber ini juga memuat pernyataan dari CTO Tajdied Center, Muhammad Taufiqur Rosyid, mengenai perubahan nama dari Al-Jadied sejak 2013.
2. Tentang Aplikasi Tajdied Educore dan Fitur-fiturnya
-
Virtumu.com - "SD Mumtaz Siap Gunakan Tajdied Educore: Revolusi Pembelajaran Al-Quran Digital Dimulai": Artikel ini mengulas secara mendalam fitur-fitur unggulan aplikasi Tajdied Educore, termasuk pernyataan dari Pristiandi Teguh C. mengenai aplikasi ini sebagai "gerakan perubahan".
-
PWMU.CO - "Tajdied Educore Kini Tersedia di Play Store": Memberikan informasi tentang ketersediaan aplikasi di Play Store serta fitur-fitur seperti presensi, jurnal ngaji, dan ujian (ikhtibar, imtihan, munaqasyah) yang terintegrasi.
-
PWMU.CO - "SD Mumtaz Siap Gunakan Tajdied Educore": Memberikan perspektif dari pihak sekolah (SD Muhammadiyah 1 & 2 Taman) tentang kesiapan mereka menggunakan platform ini serta manfaatnya bagi guru dan wali murid.
3. Tentang Motto dan Filosofi Metode Tajdied
-
Muhammadiyah Lamongan - "Parenting SD Musaka, Hadirkan Trainer Pusat Tajdied Center": Sumber ini memuat pernyataan dari Trainer Pusat Tajdied Center, Lukman Syah, mengenai motto "Mencerdaskan, Gembira, Pasti Bisa" serta filosofi bahwa metode ini "memanusiakan anak" dan membuat belajar terasa menyenangkan.
4. Tentang Pelatihan Guru Metode Tajdied
-
TAGAR.CO - "Metode Tajdied, Ikhtiar SD Muri Tingkatkan Kualitas Pengajaran Al-Qur’an": Artikel ini melaporkan tentang pelatihan selama tiga hari yang diikuti oleh 50 peserta di Gresik, serta pernyataan dari Wakil Kepala Sekolah SD Muri mengenai pentingnya peningkatan kompetensi guru.
5. Tentang Pendekatan Metode (SAS dan Mnemonik)
-
Jurnal STIQ Amuntai - "Metode Tajdied": Menjelaskan bahwa metode Tajdied menggunakan dua pendekatan, yaitu metode SAS (Struktural Analitik Sintetik) dan metode Mnemonik.
-
🔗 https://www.jurnal.stiq-amuntai.ac.id (kutipan spesifik dari hasil pencarian)
-
-
PWMU.CO - "Sekolah Ini Puas Gunakan Metode Membaca Alquran 'Tajdied'": Memperkuat penjelasan tentang penggunaan metode mnemonik dan SAS dalam pembelajaran.
Komentar 0
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar