Saat kebanyakan orang membicarakan Metode Tajdied, mereka hanya melihatnya sebagai sekadar cara baru membaca Al-Qur'an. Pandangan itu tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Sebab, jika ditelaah lebih dalam, Tajdied bukanlah sekadar metode. Lebih dari itu, Tajdied adalah sebuah lembaga yang bergerak dalam sistem pembelajaran Al-Qur'an sekaligus gerakan sosial-keagamaan yang memiliki misi besar: mencerdaskan umat Islam Indonesia, khususnya generasi muda.
Filosofi Gerakan Tajdied
Apa yang membuat sebuah lembaga pembelajaran bisa disebut sebagai "gerakan"? Jawabannya terletak pada fondasi dan tujuan yang diusung. Tajdied lahir dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur dengan moto yang sangat kuat: "Mencerdaskan, Gembira, Pasti Bisa" . Tiga kata ini bukan sekadar slogan kosong. Ia menjadi nafas dari setiap proses pembelajaran yang dilakukan.
Gerakan Tajdied hadir untuk menjawab keprihatinan terhadap fenomena semakin banyaknya generasi muda yang buta aksara Al-Qur'an. Data menunjukkan bahwa masih banyak anak usia sekolah yang belum mampu membaca Kitab Suci dengan baik dan benar, padahal kewajiban membaca Al-Qur'an melekat pada setiap Muslim. Tajdied hadir sebagai solusi dengan mengubah paradigma belajar yang awalnya terasa berat menjadi ringan, menyenangkan, dan penuh keceriaan.
Mencerdaskan Umat melalui Jaringan Kerjasama yang Luas
Salah satu bukti nyata bahwa Tajdied adalah gerakan yang masif bukan terletak pada pendirian pusat-pusat belajar fisik semata, melainkan pada jaringan kerjasama yang sangat luas dengan institusi-institusi pendidikan di bawah naungan Muhammadiyah. Tajdied telah menjalin kerjasama dengan puluhan bahkan ratusan sekolah, mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK), Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), hingga beberapa universitas di Jawa Timur dan sekitarnya.
Kerjasama ini memungkinkan metode Tajdied diintegrasikan ke dalam kurikulum harian di lembaga-lembaga tersebut. Seorang siswa TK bisa mulai dikenalkan dengan huruf hijaiyah melalui lagu dan tepuk tangan ala Tajdied. Seorang siswa SMA bisa menyempurnakan bacaan Al-Qur'an-nya dengan tajwid yang diajarkan tanpa hafalan rumit. Bahkan mahasiswa di tingkat universitas pun dapat mengikuti program Tajdied sebagai bagian dari pengembangan soft skill keagamaan. Dengan pendekatan yang ramah dan bertahap, seorang pemula (termasuk muallaf) dapat menguasai bacaan Al-Qur'an secara bertahap sesuai dengan jenjang pendidikannya.
Ekosistem Digital dan Dampak Sosial
Pada tahun 2025, gerakan Tajdied semakin menguat dengan kehadiran platform digital Tajdied Educore. Melalui sistem ini, pengelolaan santri, pemantauan perkembangan belajar, hingga evaluasi hasil dapat dilakukan secara real-time. Ribuan santri yang tersebar di hampir 10.000 pengguna telah merasakan manfaat dari ekosistem digital ini.
Lebih jauh lagi, Tajdied juga secara konsisten mencetak ribuan hafidz dan hafidzah setiap tahunnya melalui sekolah-sekolah mitra. Ini membuktikan bahwa gerakan mencerdaskan umat yang diusung bukanlah wacana belaka, melainkan telah menghasilkan output nyata yang dapat dirasakan oleh masyarakat luas.
Dengan segala capaian tersebut, sangat tepat jika kita menyebut Tajdied sebagai sebuah gerakan mencerdaskan umat, bukan sekadar metode. Gerakan yang membawa angin segar bagi dunia pendidikan Al-Qur'an di Indonesia, khususnya di Jawa Timur, melalui kerjasama strategis dengan institusi pendidikan dari TK hingga universitas.
Komentar 0
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar